Isu Kelas Sosial dari Pandangan Kelas Menengah dalam Puisi Robert Frost “Stopping by Woods on a Snowy Evening”

“Stopping by Woods on a Snowy Evening” adalah puisi karya Robert Frost. Puisi ini bercerita tentang seseorang yang sedang berkuda menempuh perjalanan untuk memenuhi janjinya. Ia berhenti di tengah hutan untuk menikmati pemandangan alam yang ada di sekitarnya. Akan tetapi, sesaat kemudian dia ingat bahwa dia memiliki janji yang harus dia tepati, dan perjalanan masih jauh baginya untuk sampai ke rumah. Oleh karena itu, akhirnya dia memutuskan untuk segera bergegas melanjutkan perjalanannya walaupun sebenarnya dia masih ingin berada di tempat itu. Keinginan aku liris dalam puisi ini untuk menikmati pemandangan alam dan kenyataan bahwa dia akhirnya lebih memilih untuk pergi meninggalkannya menyiratkan bahwa aku liris telah merepresi hasratnya demi sesuatu yang dia anggap lebih penting, atau benar-benar tidak dapat ditinggalkan. Dengan menunjukan keputusan aku liris untuk meninggalkan hal yang sebenarnya lebih dia sukai, puisi ini menyampaikan gagasan bahwa pada masa imajiner didalamnya sulit bagi seorang kelas menengah untuk mendapatkan apa yang sebenarnya diinginkan.

Puisi ini mengikuti pola yang teratur, iambic tetrameter dengan setiap stanza yang berpola rima ‘aaba.’ Secara keseluruhan, puisi ini mengikuti pola aaba-bbcb-ccdc-dddd. Perbedaan pada stanza terakhir menunjukan ada sebuah empasis pada baris yang membuat perbedaannya, yaitu “and miles to go before I sleep” (line 15).  Bentuk, pola, dan rima yang teratur dari puisi ini membuatnya menjadi seperti sebuah lagu yang mengalun. Apabila puisi ini diibaratkan sebuah lagu, penekanan pada stanza terakhir ini seolah menjadi klimaks dari lagu tersebut, seperti saat seorang penabuh drum memberi aksen pada permainannya dengan berpindah dari memukul hi-hat ke ride.

Penggunaan kata “woods” dalam puisi ini mengingatkan saya pada pendeskripsian “woods” pada Walden karya dari Henry David Thoreau. Thoreau mengatakan dengan gamblang disana bahwa dia pergi ke hutan “because [he] wished to live deliberately, to front only the essential facts of life…”  Dari kutipan ini dapat disimpulkan bahwa “woods” dalam Walden adalah tempat dimana seseorang dapat menemukan “the essential facts of life” dst. Jika dibandingkan dengan puisi yang sedang kita bahas, disini tidak disebutkan dengan gamblang kenapa dia berhenti ditengah hutan. Satu-satunya hal yang dapat dirujuk mengenai hal ini adalah “to watch his woods fill up with snow” (line 4). Sikap aku liris terhadap pemandangan disana dapat menjadi pelengkap jawaban pertanyaan diatas. Dia mendeskripsikan bahwa “the woods are lovely, dark, and deep” (line 13), oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa dia berhenti disana semata-mata hanya untuk menikmati suasana itu, karena dia menyukainya.

“Little horse” dalam puisi ini memegang peran yang sangat penting. Hal ini sekilas dapat terlihat dengan jelas dari proporsinya dalam puisi, pendeskripsiannya jika dibandingkan dengan pendeskripsian “woods” kurang lebih memiliki proporsi yang hampir seimbang. Kuda ini juga menjadi sebuah pengingat disaat aku liris berhenti sejenak di tengah hutan. “[The] little horse must think it queer to stop without a farmhouse near…he gives his harness bells a shake to ask if there is some mistake.” Ketidaknyamanan “little horse” ini seolah menjadi salah satu faktor pendukung untuknya kembali melanjutkan perjalanan, karena sesaat setelah itu ia langsung melanjutkan perjalanan, teringat akan janji dan panjangnya perjalanan yang harus ia tempuh.

Terkait dengan penciteraan, menurut saya puisi ini tidak menggunakan kata-kata yang spesifik dalam penyampaiannya, melainkan menggunakan keseluruhan dari puisi ini untuk membuat citra visual yang dapat dibayangkan oleh pembaca seiring dengan berjalannya ‘cerita’ yang disajikan. Puisi ini menggunakan pendeskripsian akan kejadian yang terjadi pada saat itu, melalui perantara pengalaman indera penglihatan dan pendengaran aku liris yang disajikan dengan begitu sederhana, namun dikemas dalam kata-kata yang berima.

Akan tetapi, menyangkut simbolisme, menurut saya puisi ini menggunakan kejadian kecil dalam keseluruhan puisi ini sebagai metafor dari sesuatu yang lebih besar. Dalam puisi ini diceritakan sebuah dilemma yang sedang dialami aku liris antara sesuatu yang dia sukai, atau sesuatu yang wajib dia tepati.  Hal ini berdasarkan dari apa yang sudah kita bahas sebelumnya, alasan dia berhenti sejenak di hutan adalah untuk menikmati suasananya, terlihat dari sikap aku liris terhadap penciteraan yang dia buat akan keadaan sekitarnya. Hutan dalam puisi ini dapat diartikan sebagai sebuah tempat yang indah, namun asing dan berbahaya. Kembali terkait dengan pendeskripsian Thoreau tentang hutan, disinilah seseorang dapat mencari “essential facts of life,” tempat yang berbahaya namun mengandung banyak makna. Sementara “little horse” disini dapat diartikan tenaga kerja yang kecil. Sebelum mesin banyak digunakan, kuda berperan banyak dalam kegiatan manusia, terutama kegiatan manusia yang membutuhkan banyak tenaga. Hal ini juga mengingatkan kepada alegori yang digunakan George Orwell dalam karyanya Animal Farm. Menurut saya, ia menggunakan Boxer, karakter yang merupakan seekor kuda, untuk merepresentasikan kaum pekerja atau buruh dalam karyanya itu.

Penggunaan diksi sederhana yang dikemas dalam rima teratur yang mengalun membangun nada dari puisi ini. Menurut saya, pola rima yang digunakan dalam puisi ini termasuk pola rima yang sangat indah. Kesederhanaan diksi yang dibalut dalam kemasan yang indah ini seolah menunjukan bahwa puisi ini hendak menyampaikan bahwa keindahan bisa berasal dari sesuatu yang sederhana, seperti keindahan hutan yang sedang diceritakan dalam puisi ini. Dalam puisi ini suasana hutan tidak digambarkan dengan sesuatu yang berlebihan, hanya disdeskripsikan apa adanya. Satu-satunya kata yang menunjukan kekaguman aku liris terhadap alam sekitarnya adalah kata “lovely” pada baris ke-14. Ditengah-tengah suasana kagum ini, akhirnya puisi ditutup dengan kesadaran aku liris akan janjinya yang harus ditepati dan perjalanannya yang masih jauh. Kesadaran ini kemudian ditekankan dengan perubahan rima dan repetisi yang terjadi pada stanza terakhir ini, “and miles to go before i sleep, and miles to go before i sleep.”

Masalah dalam puisi ini adalah penyajian aku liris yang menyiratkan bahwa dia adalah seorang dari kelompok kelas menengah. Hal ini dapat dilihat dari stanza pertama dari puisi ini yang menyatakan bahwa dia sedang melalui hutan yang dimiliki oleh seseorang yang dia kenal. Dia menyatakan “his house is in the village though; he will not see me stopping here” (line 2-3). Dua baris tersebut menyiratkan sebuah rasa sungkan untuk berada didalam properti milik orang lain, menunjukan status sosialnya yang berada dibawah sang pemilik hutan. Terlebih lagi kenyataan bahwa dia sedang dalam perjalanan mengendarai kuda, sendiri, pada sore hari dimusim dingin, semakin memperkuat gagasan ini. Jika sang aku liris dalam puisi ini adalah seseorang dari kalangan atas mungkin dia tidak akan melakukan perjalanan pada saat-saat seperti itu, dan terlebih lagi perjalanan yang dia tempuh adalah perjalanan untuk menepati sebuah janji, atau dapat diartikan juga sebagai sebuah kewajiban, atau pekerjaan yang sedang dia jalani.

Telah kita bahas sebelumnya bahwa puisi ini kemungkinan adalah sebuah metafor untuk  mewakili sesuatu yang lebih besar. Telah dibahas juga sebelumnya bahwa hutan disini mewakili sesuatu yang berbahaya namun indah, dan mengandung banyak makna, sementara kuda kecilnya disini mewakili tenaga kerja kecil. Jika diinterpretasikan demikian, dapat disimpulkan bahwa ‘hal lebih besar’ yang direpresentasikan disini adalah kelas menengah (aku liris), yang sedang menjalani kewajibanya dengan pekerja kelas bawah (little horse) untuk memenuhi tuntutan kelas atas. Akan tetapi, kesimpulan ini pun bermasalah karena kelas menengah disini direpresentasikan sebagai penunggang kelas bawah.

Jika simpulan tersebut berterima, maka berhentinya aku liris untuk menikmati indahnya suasana di tengah hutan dapat diartikan sebagai kelas menengah yang sedang mencari makna kehidupan sembari menjalankan kewajibannya, namun terpaksa meninggalkannya disaat dia mulai merasakan keindahannya. Penggambaran dalam puisi ini menunjukan lapisan kelas sosial dalam masyarakat, walaupun kelas menengah digambarkan sebagai penunggang kelas bawah, sebenarnya disini kelas bawah juga memberikan sebuah tekanan untuk kelas menengah agar terus bergerak mengikuti kewajibannya. Dalam puisi ini digambarkan kuda yang ditunggangi aku liris merasa tidak nyaman dengan perhentiannya di tengah hutan, dan seolah memaksa penunggangnya melanjutkan perjalanan. Hal ini masuk akal ketika diaplikasikan kepada sistem masyarakat, karena jika masyarakat kelas menengah berhenti bekerja, kelas bawah pun praktis kehilangan pekerjaannya. Tentu saja setiap lapisan dari sistem sosial memiliki masalahnya sendiri, akan tetapi dalam puisi ini disajikan setidaknya sebuah masalah dari sudut pandang kelas menengah.

Dengan begini dapat disimpulkan bahwa keputusan aku liris untuk melanjutkan perjalanannya diakibatkan oleh kedua hal ini. Posisinya yang berada ditengah-tengah, praktis berlaku seperti sebuah jembatan antara kelas atas dan kelas bawah. Perannya sebagai jembatan membuatnya mendapat tekanan dari kedua pihak, dalam hal ini adalah tekanan dari kelas atas dan dari kelas bawah untuk menjalankan kewajibannya, sehingga sulit baginya untuk mencapai apa yang sebenarnya diinginkan. Hutan, seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, adalah tempat yang indah dimana manusia bisa belajar akan arti kehidupan. Kenyataan bahwa aku liris terpaksa meninggalkan tempat ini mencerminkan sulitnya kelas menengah untuk mencari arti kehidupan, dan penekanan pada stanza terakhir dari puisi mengesankan bahwa aku liris menyesalkan kenyataan ini. Kesimpulan yang dapat diambil dari hal ini, menurut saya, adalah hilangnya makna kehidupan, dan sulitnya mendapatkan kesenangan, dialami oleh kaum menengah akibat adanya lapisan-lapisan kelas dalam masyarakat, setidaknya dalam dunia imajiner yang ada dalam puisi ini.

Hal ini, beserta dengan penggambaran hasrat akan nuansa natural yang digambarkan dalam puisi ini, berjalan senada dengan semangat romantisisme yang berkembang di Amerika Serikat pada abad ke-19 walaupun puisi ini ditulis pada awal abad ke-20. Karakteristik aliran romantisisme yang mengedepankan hal-hal natural dan kepentingan diri sendiri terwujud dalam puisi ini melalui keinginan aku liris untuk menikmati suasana di hutan dan penolakannya terhadap sistem kelas sosial, walaupun pada akhirnya dia terpaksa untuk mengikutinya. Ditinggalkannya hutan oleh aku liris pada puisi ini juga seolah mencerminkan mulai ditinggalkannya romantisisme pada masa itu.

Bibliography

Frost, R. (t.thn.). Stopping by Woods on a Snowy Evening. Dipetik 6 29, 2012, dari Representative Poetry Online: http://rpo.library.utoronto.ca/poems/stopping-woods-snowy-evening

Orwell, G. (1945). Animal Farm. Oxford: Henemann Educational Publishers.

Thoreau, H. D. (t.thn.). Walden. Dipetik 6 29, 2012, dari Gutenberg: http://www.gutenberg.org/files/205/205-h/205-h.htm

VanSpanckeren, K. Outline of American Literature. The United States Department of States.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s